Mengenal Fakta Seputar Vaksin Measles Rubella

Jakarta – Vaksin Measles Rubella (MR) yang diimpor dari Serum Institute of India menuai kontroversi karena mengandung babi. Kehalalannya banyak dipertanyakan oleh umat Muslim Tanah Air.

Ahli vaksin dan penyakit dalam sekaligus CEO In Harmony Vaccination, dr Kristoforus Hendra Djaya SpPD, memberi penjelasan mengenai bagaimana sebenarnya fakta-fakta tentang measles rubella sebagai pengetahuan.

“Sebenarnya bukanlah pada kapasitas saya sebagai dokter untuk menjawab isu-isu mengenai keyakinan agama tertentu dan memperdebatkan ajaran agama. Namun saya akan membantu memberikan fakta-faktanya saja untuk memberikan pengetahuan dalam pandangan dua sisi, baik yang pro maupun kontra,” kata Kristoforus di Jakarta, Jumat (20/8).

Terlebih dahulu, kata Kristoforus, perlu dijelaskan sejarah dan asal muasal vaksin dibuat. Sejatinya, binatang telah digunakan dalam produksi vaksin manusia sejak masa-masa awal pembuatan vaksin. “Separuh awal dari abad ke-20, sebagian besar vaksin diproduksi menggunakan media binatang, entah dengan menumbuhkan bakteri/virus di tubuh binatang hidup atau menggunakan sel-sel binatang,” jelasnya.

Dalam pembuatannya, beberapa vaksin yang dihasilkan tidaklah stabil, sehingga tidak dapat disimpan untuk digunakan dalam jangka panjang. “Hal ini berarti, vaksin tersebut tidak praktis untuk didistribusikan ke seluruh dunia. Oleh karena itu, diperlukan suatu zat untuk menstabilkan formulasi vaksin tersebut,” urainya.

Untuk menstabilkan berbagai obat-obatan, bukan hanya vaksin, namun juga berbagai jenis kapsul, digunakanlah gelatin yang merupakan zat stabilizer. Produsen vaksin akan melakukan pengujian terhadap berbagai jenis stabilizer dan memilih mana yang paling stabil, berkualitas baik, dan dapat diproduksi dalam jumlah besar (massal).

Gelatin, kata Kristoforus, merupakan suatu zat yang dibuat dari kolagen binatang seperti ayam, sapi, babi, atau ikan. Kolagen ditemukan dalam tendon, ligamen, tulang, dan kartilago. Gelatin dibuat dari kolagen yang terdapat dalam babi.

“Gelatin yang digunakan dalam vaksin telah melalui banyak proses pemurnian dan penghancuran hingga menjadi molekul-molekul yang sangat kecil dan dikenal dengan nama peptide,” kata dia.

Menurut Kristoforus, meneliti tentang stabilizer dan menciptakan vaksin membutuhkan waktu bertahun-tahun bahkan berpuluh-puluh tahun melalui berbagai uji laboratoris dan studi klinis untuk memastikan keamanan dan efektivitasnya.

Jika ingin mengganti salah satu komponen dalam vaksin tersebut, lanjut dia, berarti harus meneliti kembali segalanya dari awal lagi, membutuhkan waktu berpuluh-puluh tahun untuk mengujinya kembali dan memastikan keamanan dan efektivitasnya tidak terpengaruh oleh perubahannya, itu pun dengan risiko bahwa hasil yang didapatkan belum tentu sebanding atau bahkan gagal.

“Inilah sebabnya, mengapa penggantian stabilizer seperti yang diharapkan banyak orang, belum tentu bisa dilakukan,” tambahnya.

Meski demikian, kata Kristoforus, mengingat penggunaan komponen binatang hidup bisa saja terinfeksi virus atau bakteri yang dapat mengkontaminasi vaksin. “Oleh karena itu, teknik produksi virus vaksin dalam sel manusia mulai dikembangkan dan menyebabkan perkembangan dunia vaksinasi yang signifikan,” tambahnya.

Bukan tanpa masalah, penggunaan sel manusia yang didapat dari janin yang diterminasi itu. Persoalan etika menjadi masalah tersendiri. Banyak ahli menyarankan produsen untuk meneliti kembali dan memproduksi vaksin tanpa menggunakan medium sel manusia.

“Perlu diingat, pembentukan lini sel WI-38 sebagai medium pembiakan virus vaksin adalah sel-sel yang ‘di-lahir-kan’ oleh virus dari janin yang diterminasi, dan bukanlah sel dari janin itu sendiri,” tandasnya.

Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) membolehkan (mubah) vaksin MR tetap digunakan. Ada tiga alasan untuk ini, yakni, pertama, adanya kondisi darurat atau syar’iyyah. Kedua, belum ditemukannya vaksin baru yang halal dan suci hingga saat ini. Ketiga, berdasarkan keterangan dari ahli yang kompeten dan kredibel yang menyatakan bahwa terhadap bahaya yang bisa timbul bila tidak diimunisasi. Karena itu, MUI mengimbau kepada masyarakat agar tidak ragu dan khawatir untuk diimunisasi dengan vaksin MR.

“Fatwa MUI ini bisa dijadikan pijakan dan panduan di dalam pelaksanaan imunisasi MR sekaligus rujukan kepada masyarakan khususnya masyarakat Muslim untuk tidak ragu lagi mengikuti imunisasi MR dengan vaksin yang sudah disediakan pemerintah,” kata Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Niam, dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (23/8).

Niam juga menegaskan, berdasarkan kajian Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis (LPPOM) MUI, vaksin MR produksi SII tersebut memanfaatkan unsur yang berasal dari babi dalam proses pembuatannya, meskipun hasil akhirnya tidak terlihat mengandung babi. Ini sekaligus meluruskan pemberitaan selama ini bahwa vaksin MR mengandung babi.

“Jadi berbeda ya dua hal ini, antara produksi vaksin memanfaatkan unsur babi dengan mengandung babi,” kata Niam.

 

Sumber: BeritaSatu.com